Skip to content

KONFLIK SOSIAL DAN KEGIATAN PERTAMBANGAN DI PERU

Juli 26, 2011

"Kehidupan Yes, Pertambangan No!"


Observatorio de Conflictos Mineros (Pusat Pengkajian Konflik Pertambangan) melakukan observasi di lima daerah penting di Peru. Menurut peta konsesi itu, daerah Apurimac merupakan daerah yang memiliki konsesi pertambangan paling tinggi yakni 56.52% yang diikuti oleh Cajamarca dengan 48.47%, Piura 27.48%, Junin 24.68% dan Cusco 18.12%.

Sementara Direktur Promosi Pertambangan dari Menteri Energi dan Pertambangan menyatakan bahwa 10% dari teritori Peru memiliki potensi pertambangan untuk dieksplorasi dan hanya 0.78% dari teritori yang sudah diduduki oleh perusahaan pertambangan dan 0.27% sedang dalam proses eksplorasi. Jadi menurutnya hanya 1.05% yang telah diduduki oleh kegiatan pertambangan.

Sementara Direktur LSM Cooperaccion, José de Echave menyatakan bahwa perlu adanya penataan kembali semua konsesi pertambangan untuk mengurangi bahaya konflik. Terutama harus ditetapkan secara tegas dan jelas daerah-daerah mana yang bisa dan tidak bisa dilakukan kegiatan pertambangan. Menurutnya pada awal tahun ini área konsesi pertambangan adalah sebesar 11.572.000 hektar. Tetapi dalam enam bulan terakhir telah meningkat menjadi 24 juta hektar yang berarti 18.91% dari teritori nasional. Dan yang lebih menyedihkan adalah bagaimana daerah-daerah ini diserahkan kepada aktivitas pertambangan. Institut Geologi Pertambangan dan Metalurgi (INGEMMET) menyerahkan daerah pertambangan ini tanpa melakukan evaluasi terhadap apa yang sedang terjadi di wilayah yang akan dijadikan daerah pertambangan tersebut. Konsekwensi dari kealpaan ini akan berbahaya bagi aktivitas pertambangan itu sendiri, bagi zona reservasi dan bagi perkembangan masyarakat di daerah tersebut. Karena itu dia meminta supaya ada kerjasama antara pihak pusat dan daerah dalam mengambil keputusan untuk wilayah konsesi pertambangan.

Dia juga menyatakan bahwa konflik sosial akibat aktivitas pertambangan ini, berkembang dari 82 konflik tahun 2006 menjati 217 konflik tahun 2011. Dan sebagian besar konflik tersebut adalah konflik-konflik yang berkaitan dengan masalah sosial dan lingkungan, yang terjadi karena tidak ada konsultasi dengan masyarakat dan tidak dilakukannya penelitian dampak lingkungan hidup atas kegiatan pertambangan ini. Dan menurut Apoyo Consultario wilayah-wilayah konflik sosial ini, menurut rencana pemerintah, akan mendapat investasi sebanyak kurang lebih US$ 9.000 juta dalam lima tahun mendatang. Direktur Cooperaccion, De Echave, meminta supaya selain melakukan pengaturan kembali konsesi pertambangan yang ada, adalah lebih baik mensyahkan Ley Consulta Previa (Hukum Pra- Konsultasi : hukum yang mewajibkan semua perusahaan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan masyarakat di daerah tambang sebelum melakukan kegiatan pertambangan) supaya masyarakat tidak merasa dilecehkan oleh para investor.

Sumber-sumber informasi:
http://www.spaciolibre.net/wp-content/uploads/2010/12/OCM_Setimo_informe.pdf
http://www.larepublica.pe/impresa/reordenamiento-minero-reduciria-conflictos-2011-07-26

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: