Skip to content

POLITIK LUAR NEGERI VENEZUELA (1)

Juni 23, 2011

Hugo Chavez (Presiden Venezuela), Evo Morales (Presiden Bolivia), Lula Da Silva (Mantan Presiden Brasil) dan Rafael Correa (Presiden Ecuador)

Sejak terpilih kembali menjadi presiden Venezuela tahun 2004, politik luar negeri Venezuela berubah total. Berbeda dengan pemerintahan sebelumnya yang memiliki aliran politik tradisional dengan Amerika Serikat, Hugo Chavez bahkan membangun politik: antiamerikanisme dan membangun peta politik internasional no tradicional dengan China, India, Iran, Irak. Lalu dengan menggunakan kekuatan minyaknya masuk dalam OPEC untuk mempengaruhi semua anggota OPEC untuk memiliki keputusan sendiri demi kepentingan kelompok mereka dan tidak dipengaruhi oleh negara-negara konsumen terutama negara adidaya USA. Selain itu Venezuela membangun politik untuk berpartisipasi dalam semua kegiatan multilateral sebagai aktor protagonis, melakukan kerjasama yang baik dengan Colombia, Cuba, Bolivia dan Ecuador.
Strategi Politik Regional:
Salah satu proyek politik internasional yang dicanangkan oleh Hugo Chavez adalah menghidupkan kembali proyek Simón Bolivar dalam sebuah “Konfederasi Americalatin dan Karibea” dengan menempatkan dirinya sebagai “Pembebas” dari Venezuela.
Pengintegrasian negara-negara Amerika Latin dan Karibe akhirnya terbentuk dengan munculnya Alternativa Bolivariana para las Américas(ALBA) pada Sidang KTT Kepala Negara Asosiasi Negara-Negara Karibe tahun 2001. ALBA ini kemudian berkembang dengan masuknya Fidel Castro melalui penandatanganan perjanjian bulan Desember 2004, yang kemudian diikuti oleh Presiden Bolivia Evo Morales tahun 2006, Nicaragua tahun 2007, Honduras tahun 2008 dan Ecuador tahun 2009. Dan akhirnya mereka menandatangani Memorandum de Entendimiento (MoU) dengan beberapa negara Amerika Tengah seperti Republica Dominicana (2008), Antigua Barbuda, San Vicente dan Las Granadias (2009).
ALBA merupakan sebuah proyek yang dikembangkan oleh Venezuela untuk menjawabi hal yang sama dikembangkan oleh Amerika Serikat dengan nama Area de Libre Comercio de las Americas (ALCA = Daerah Perdagangan Bebas Amerika). ALBA dan ALCA adalah dua organisasi yang visi dan misinya saling berlawanan. Sementara ALCA menjamin hegemoni USA di wilayah Amerika, meningkatkan dan mengembangkan zona perekonomian bebas yang mendukung perekonomian Amerika Serikat. Sementara ALBA didasarkan pada prinsip saling mendukung, saling mengisi dan solidaritas antara negara-negara anggota; dan memperkenalkan otonomi dari setiap negara untuk mengembangkan model perekonomian yang diinginkan. Selain itu ALBA juga memiliki visi untuk melawan kemiskinan.

Presiden Venezuela, Hugo Chavez


ALCA memiliki komponen energi dalam keputusannya yakni Iniciativa Energetica Hemisferica (IEH) yang diluncurkan pada Konferensi Tingkat Tinggi Negara-Negara Amerika di Miami tahun 1994. Dalam keputusan itu dinyatakan “Ke 34 Kepala Negara di Amerika mengadopsi Plan Aksi yang diberikan kepada Menteri Energi sebuah orientasi untuk meningkatkan kerjasama energi regional dan mengembangkan politik yang mendukung investasi pribadi dalam sektor energi”.Dalam KTT ini dipilih Koordinator dari Kelompok Kerja Energi yakni Amerika Serikat melalui Departemen Energinya dan Venezuela melalui Menteri Energi dan Pertambangan. Keputusan untuk membangun sebuah integrasi energi di wilayah terbentuk karena pentingnya peran energi dalam konteks dunia, demi keamanan pembangunan nasional.
Pada KTT III Negara-negara Amerika di Quebec, Canada tahun 2001, IEH tidak mendapat dukungan lagi karena tidak adanya pertemuan yang terrencana antara negara anggota dan tujuannya tidak tercapai. Banyak keputusan yang diambil dalam kerjasama ini hanya mempermudah para pengusaha swasta dan nasional untuk mengambilalih semua kegiatan yang berhubungan dengan energi. Dan ini tidak diharapkan oleh banyak negara di Amerika. Beberapa negara mulai menolak proyek energi ini. Karena itu dalam KTT V Negara-Negara Amerika tahun 2005 di Mar de Plata, Venezuela mempromosikan ALBA yang menolak ALCA yang dipimpin oleh Amerika Serikat.
Walaupun ALBA adalah sebuah kerjasama politik, di mana Chavez mengembangkan kekuasaannya di wilayah Amerika, namun tidak bisa diabaikan begitu saja komponen ekonomi yang memiliki peran yang sangat penting, terutama minyak bumi. Atas masalah minyak, maka dibentuklah Petroamerica tahun 2001, yang bertujuan menciptakan sebuah sebuah perusahaan minyak multinasional yang merupakan kerjasama perusahaan-perusahaan minyak nasional dari wilayah Amerika ini, yang bertujuan untuk melakukan kerjasama dalam investasi, eksplorasi, eksploitasi dan komersialisasi minyak di wilayah ini. Terhadap Petroamerica maka dibentuklah Petrocaribe, Petroandina dan Petrosur yang memiliki tujuan untuk membangun sebuah mekanisme kerjasama untuk meningkatkan integrasi fisik regional dalam bidang energi, memanfaatkan potensi-potensi yang dimiliki wilayah ini yang kaya dengan sumber energi, dan membangun sebuah sistem pertukaran yang didasarkan pada asas komplementer, solidaritas dan tanggungjawab sosial.
Petrocaribe: berusaha menjamin fasilitas finansial dan struktural bagi energi di wilayah Karibe sesuai dengan Persetujuan San José dan Persetujuan Energi Caracas (Acuerdo de San José dan Acuerdo Energético de Caracas). Perjanjian ini mendukung negara-negara di daerah ini untuk mendapat pertolongan financial terhadap minyak mentah dengan bantuan sebesar : 30% dalam jangka panjang, jika harga perbarel sebesar kurang dari US$40; sebesar 40% jika harga minyak mentah sebesar US$ 50 dan; sebesar 50% jika harga minyak mentah sebesar lebih dari US$ 50. Juga perjanjian ini mendukung kemungkinan untuk membayar minyak dengan barang-barang lain misalnya bisa dibayar dengan gula atau pisang (hasil pertanian terkenal di Karibe).
Petroandina: berusaha mengembangkan jumlah koneksi pertambangan gas dan listrik antar negara dengan melakukan investasi bersama. Di daerah Andina, Venezuela tidak hanya tinggal diam dengan kerja sama itu melainkan juga mengembangkan kerjasama bilateral dengan negara-negara Andina. Misalnya kerjasama antara Perusahaan Minyak Nasional Venezuela (PDVSA) dengan Perusahaan Minyak Negara Bolivia (Yacimientos Petrolíferos Fiscales Bolivianos = YPFB) tahun 2007 di mana YPFB akan mengontrol sebesar 60% dan PDVSA sebesar 40%.
Petrosur: memperkenalkan kembali pentingnya kerjasama antara perusahaan-perusahaan minyak negara dari Brasil, Argentina, Uruguay dan Venezuela: yakni antara Petrobras, Enarsa, ANCAP dan PDVSA supaya mengembangkan sebuah cara integral bisnis perminyakan. Dan kerjasama ini juga menghindari para perantara yang menjual minyak dengan harga yang lebih tinggi dan mengurangi biaya transaksi.
Dalam kancah regional bisa dilihat Venezuela telah menjadi aktor yang aktif secara khusus dalam ideologi yang antiimperialisme, kritik terhadap globalisasi, dan menggunakan energi sebagai kendaraan politik untuk memperkuat posisi dan kekuasaannya.
Banyak ahli yang melihat bahwa politik luar negeri Venezuela terjadi seperti itu sebagai reaksi atas politik ekonomi yang dibangun oleh Amerika Serikat dan sekutunya lewat ALCA yang kemudian dibalas oleh Venezuela dan negara-negara pengikutnya dengan ALBA. Mereka juga melihat bahwa jalan menuju integrasi Amerika merupakan sebuah perjalanan yang panjang karena orientasi politik dan ekonomi dari masing-masing negara yang saling berseberangan. Kampanye aktif yang dibarengi dengan kekuatan energi dari Venezuela membuat banyak negara-negara di Amerika terbagi untuk mengikuti Venezuela, apalagi diimingi oleh kekuatan minyaknya, atau mengikuti Amerika Serikat dan sulit untuk berada di antara keduanya. Apalagi model politik Venezuela didukung oleh partai politik dan tendensi ekonomi, baik dari aliran kiri, progresif maupun aliran konservatif dalam negara-negara lain di Amerika Latin.
Salah satu politik integrasi Amerika yang juga dibangun oleh Hugo Chavez dalam CONO SUR adalah mencari solusi masalah defisit energi dengan menerapkan proyek Gran Gasoducto del Sur (Pertambangan Gas Besar Selatan). Proyek ini ingin menggunakan gas sebagai sumber energi utama yang ada di Amerika Selatan, seperti Brasil dan Argentina. Ketiga negara ini berrencana untuk membangun sebuah pengilangan gas yang berasal dari Venezuela kemudian ke Buenos Aires lalu ke Brasil, dengan panjang pipa gas mencapai delapan ribu kilometer. Namun rencana ini nampaknya sulit untuk direalisasikan karena perbedaan pandangan dan politik dengan beberapa negara di Amerika Selatan seperti dengan Colombia dan juga Brasil yang membuat rencana ini terancam batal.
Politik Venezuela dengan Colombia: Selama pemerintahan Presiden Álvaro Uribe di Colombia terjadi begitu banyak perselisihan dengan Hugo Chavez dari Venezuela. Bahkan relasi kedua negara sampai pada taraf menggelisahkan saat kedua negara menarik para diplomatnya. Colombia melalui Dewan Permanen Organisasi Negara-Negara Ameria (OEA) menuduh Venezuela melindungi dan melatih para gerilyawan ELN (Ejercito de Liberación Nacional = Tentara Pembebasan Nasional) dan FARC (Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia = Angkatan Bersenjata Revolosioner Colombia). Tuduhan ini dijawab oleh Venezuela dengan menarik diplomatnya dari Colombia dan mengusir diplomat Colombia. Intervensi dari UNASUR akhirnya meminta kepada kedua negara untuk melakukan perundingan. Situasi yang sama terjadi tahun 2009 ketika Colombia memberikan otorisasi kepada Amerika Serikat supaya menggunakan 7 pusat militer di negaranya, yang oleh Chavez dilihat sebagai kesempatan bagi “yanqui” untuk melakukan intervensi di daerah ini.

Hugo Chavez y Juan Santos (Presiden Colombia)


Ketika terpilih menjadi Presiden Colombia yang baru Juan Manuel Santos menjauh dari cara berpolitik Uribe. Dalam waktu kurang dari tiga minggu setelah dilantik dia mengubah orientasi politik dan atas desakan UNASUR maka dilakukan perundingan dengan Venezuela yang kemudian dikenal dengan nama “Acuerdo de Santa Marta” (Persetujuan Santa Marta). Dia juga merekomposisi relasi bilateral dan menegaskan sikap saling percaya dan menempatkan masalah ekonomi sebagai bagian yang penting dalam hubungan bilateral dengan Venezuela. Dalam perjanjian itu juga disetujui kerjasama materiil tentang keamanan untuk berjuang melawan kelompok gerilyawan yang sudah lama mengganggu stabilitas Colombia.
Politik Venezuela dengan Brasil: Chavez menjaga hubungan bilateral yang baik dengan Lula Da Silva. Hal ini menjadi nyata dalam hubungan perdagangan yang kuat dan penandatanganan perjanjian kerjasama dalam berbagai bidang dan pertahanan integral regional. Venezuela dan Brasil berlomba untuk menjadi pemimpin regional. Brasil menyatakan dirinya sebagai pemimpin natural Amerika Selatan karena teritorinya yang luas, penduduk dan ekonominya, juga karena penemuan baru dalam reservasi minyak di wilayahnya, serta potensi ekonominya yang sedang berkembang dengan baik bahkan diprediksikan menjadi salah satu dari empat kekuatan ekonomi terkuat tahun 2050 bersama dengan Rusia, China dan India. Sementara Venezuela beranjak dari strategi politik integrasi regional yang dipusatkan pada energi, dengan minyak yang harganya semakin naik, mencari pengaruh yang lebih besar dengan lebih aktif di Cono Sur dan MERCOSUR serta berusaha untuk mengurangi pengaruh Brasil di wilayah ini. Sejak menjadi Presiden Brasil, Lula Da Silva menjaga hubungan bilateral yang kuat dengan pemerintah Venezuela namun dalam hal-hal tertentu Lula Da Silva menjaga jarak dengan Venezuela. Banyak ahli politik internasional menyatakan Brasil setia dengan gaya diplomatik mereka, yang tidak menggunakan konfrontasi berhadapan dengan hubungan internasional, selalu menghormati Venezuela karena Venezuela memiliki kekuatan untuk melakukan veto terhadap beberapa proyek yang dimiliki Brasil di wilayah Amerika Selatan.
Politik Venezuela dengan Ecuador dan Bolivia: Kedua negara ini memiliki hubungan yang baik dan langsung dengan Venezuela. Sejak Rafael Correa menjadi Presiden Ecuador tahun 2006, relasi mereka dengan Venezuela tidak lagi hanya sebatas saling mendukung tetapi mengarah ke proyek integrasi wilayah. Selain itu ideologi kedua presiden yang hampir sama, membuat kedua negara ini melakukan berbagai perjanjian kerjasama. Karena itu Ecuador masuk dalam ALBA dan aktif dalam percaturan politik dunia dengan dukungan Venezuela. Sementara dengan Bolivia, Evo Morales memiliki relasi yang sangat dekat dengan Venezuela. Sejak dia menjadi Presiden Bolivia, Evo Morales membangun kerjasama yang erat dengan Venezuela baik dalam relasi bilateral maupun dalam relasi internasional.
Sumber-sumber bacaan:
1. OWEN Paul, “Los timones giran en Latinoamérica: un análisis comparativo entre Evo Morales y Hugo Chávez en materia Hidrocarburos”, Revista de Ciencia Política, Universidad de Buenos Aires, Nº4 América Latina en dos siglos, agosto de 2008. Bisa diakses di website: http://www.revcienciapolitica.com.ar/num4art4.php
2. Petrosur, Bisa diakses di website PDVSA: http://www.pdvsa.com/index.php?tpl=interface.sp/design/readmenuprinc.tpl.html&newsid_temas=47
3. ROMERO Lemaire, “Hacia un paradigma bolivariano de la política exterior de Venezuela”, Instituto Superior de Relaciones Internacionales Raúl Roa García, Boletín Electrónico ISRI, n°17, Febrero-marzo de 2007, Cuba, p.1-10. Bisa diakses di website: http://www.isri.cu/publicaciones/articulos/2007/0907.pdf
4. RUIZ CARRO Ariela, “La cooperación e integración energética en América Latina y el Caribe”, Puente@Europa, Año VIII, N° 1, Abril de 2010, p.62-67. Bisa diakses di website : http://www.ba.unibo.it/NR/rdonlyres/65BC7D5E-A9B9-41F4-84DC-B1E9470CBEB6/182714/PuenteEuropaA8RuizCaro.pdf
5. NAYLLIVIS Nathaly Naím Soto, “Alternativa Bolivariana para las Américas: una propuesta histórico política al ALCA”, Universidad de los Andes, San Cristóbal, Venezuela, Geoenseñanza, enero-junio, año/vol. 9, n°001, p. 57-73. Bisa diakses di website: http://redalyc.uaemex.mx/pdf/360/36090105.pdf

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: