Skip to content

MASALAH ENERGI DAN NEGARA-NEGARA AMERIKA LATIN

Juni 17, 2011

Pertambangan Gas Rio Grande di Santa Cruz Bolivia

Energi telah menjadi salah satu masalah utama dalam dunia modern. Karena begitu pentingnya semua negara, media komunikasi, sekolah, organisasi internasional, perusahaan-perusahaan, pasar selalu berbicara tentang energi. Bahkan setelah Perang Dingin konfrontasi antar negara tidak lagi disebabkan oleh ideologi tetapi lebih pada persediaan energi dari minyak bumi atau gas. Tidak heran peta konflik sering terjadi di daerah-daerah kantong energi seperti Gurun Persia, Laut Kaspia, Nigeria, Angola, Argelia, Sudan, Siberia Utara, Laut China Selatan, Indonesia dan Venezuela.
Karena kepentingannya maka masalah energi tidak hanya menjadi masalah studi teknis dan pasar (reservasi, prospeksi dan eksploitasi) tetapi sudah menjadi kekuatan politik baru yang dalam dunia media komunikasi sering disebut dengan “politik perminyakan” atau “diplomasi minyak”. Tidak mengherankan dalam mengambil keputusan tentang proyek energi, studi teknik atau ekonomi, yang dirasakan sangat penting, kadang-kadang harus berhenti karena strategi kekuatan politik antar negara.
Misalnya dalam dunia politik Benua Amerika relasi antara negara sangat ditentukan oleh politik perminyakan antara negara penghasil minyak seperti Amerika Serikat, Venezuela, Mexico, Cuba, Colombia, Brasil, Peru, Ecuador, Argentina, Bolivia dan Chile. Penemuan reservasi minyak atau gas menjadi point penting dalam relasi antar negara bahkan bisa menjadi lebih penting daripada kekuatan militer, strategi diplomatik atau stabilitas pemerintahan.
Relasi antar negara di Amerika Latin sangat ditentukan oleh negara-negara kantong sumber energi. Politik integrasi Amerika Latin yang dimulai Hugo Chavez dari Venezuela misalnya menggunakan sumber energi minyak negara Venezuela sebagai sumber kekuatan dalam politik kekuasaannya.
Dalam dunia politik, geopolitik dan relasi internasional, politik perminyakan berada dalam dua situasi yakni hegemoni kekuasaan yang dimiliki karena memiliki sumber energi dan penyaluran kekuasaan dengan atau dari negara lain karena relasi yang didasarkan pada sumber energi. Walaupun kedua situasi ini sangat berbeda tetapi dalam kenyataannya keduanya tidak bisa dipisahkan dalam dunia politik dan relasi antar negara. Misalnya negara-negara sumber energi merasa memiliki kekuatan yang lebih karena negara-negara lain bergantung pada sumber-sumber minyak yang mereka miliki. Tidak hanya itu, negara-negara produk minyak atau gas memiliki kekuatan ekonomi yang mampu mengubah peta kekuatan politik di negara lain, terutama negara-negara yang bergantung pada minyak mereka, dengan cara menolong pemerintah yang berkuasa, partai politik tertentu atau pergerakan politik tertentu. Situasi ini menginsinuasikan bahwa negara-negara kaya sumber energi bisa membawa kekuatan politik tertentu di negara-negara lain.
Tetapi juga kekayaan yang sama bisa menjadi lahan perebutan negara-negara besar untuk mengontrol sumber-sumber energi tersebut bahkan mengintervensi sistim politik negara sumber energi tersebut. Negara-negara penghasil minyak dan gas selalu berada dalam perhatian penuh bahkan dalam tekanan dari negara-negara besar. Ini bisa dilihat dengan jelas pada negara-negara sedang berkembang atau miskin yang memiliki kantong-kantong energi. Umumnya negara-negara ini bercirikan negara yang korup, terpecah karena perang sipil, politik yang tidak stabil atau dipimpin oleh seorang diktator.
Bila kita melihat situasi energi Amerika Latin dan relasi politik antar negara, kemungkinan untuk menggunakan minyak sebagai instrumen kekuatan politik dengan negara lain tidak seluruhnya benar. Karena , pertama, negara-negara Amerika Latin, kecuali negara-negara Amerika Tengah dan Karibe, memiliki sumber energi yang besar. Bisa dilihat misalnya Amerika Latin memiliki reservasi 10% minyak dunia, dan Amerika Utara (tidak termasuk Mexico) 2,5%, Afrika 9,3%, Eropa 8%, Asia 4% dan Eropa Timur 1,6%. Reservasi gas yang mereka miliki kecil, hanya 4% dari reservasi gas dunia. Namun penggunaan gas untuk energi berada dibawah rata-rata ini.
Kedua, dalam materi penawaran dan permintaan minyak mentah dan gas, daerah Amerika Latin berada dalam situasi yang berbeda. Kekuatan reservasi minyak Venezuela selalu dibayang-bayangi oleh kekuatan ekspor minyak mentah dari Mexico, Colombia, Ecuador dan Trinidad Tobago. Argentina dan Bolivia menghasilkan minyak mentah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar internal. Peru dan Brasil sekarang ini sedang berjalan untuk menjadi negara yang bisa memenuhi kebutuhan energi dalam negerinya sendiri (dan ini akan mengubah peta energi di wilayah ini). Sementara Chile, Paraguay, Uruguay, semua negara Amerika Tengah kecuali Trinidad Tobago, dan negara-negara di Lautan Karibea menjadi negara-negara yang membutuhkan pasokan minyak. Di daerah ini hanya Cuba dan Guatemala yang memproduksi minyak, tetapi negara-negara ini belum mampu menyuplai kebutuhan dalam negeri mereka sendiri. (Bersambung ke peta kekuatan minyak Venezuela dan beberapa negara Amerika Latin lainnya)
Sumber-sumber bacaan:
1. Agencia Nacional do Petróleo, Gas Natural e Biocombustiveis (ANP), ver http://www.anp.gov.br
2. American Petroleum Institute, ver http://www.api.org
3. Business News America. Energy Intelligence Series, “El Resurgimiento de las Petrolera Estatales”.
4. CEPAL, “Banco de Datos de Comercio Exterior de la CEPAL”.
5. OPEC, “OPEC Review. Energy Economics and related Issues”.
6. Isbell, Paul, “El Gas: una Cuestión Conflictiva en América Latina”, Real Instituto Elcano, ARI nº 48.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: