Skip to content

DAUN COCA, CUSCO, URUBAMBA, OLLANTAYTAMBO DAN MACHU PICCHU

Juni 8, 2011

Tepat jam 10.00 AM pesawat kami mendarat di kota tua Cusco. Perjalanan selama satu seperempat jam dari Lima ibukota Peru tidak terasa setelah menikmati indahnya Peru dari udara. Kedinginan cuaca Cusco menyambut kami sehingga kami harus menggunakan jaket berlapis. Cusco adalah kota tua Inca, yang dulunya adalah pusat kebudayaan bangsa Inca.

Katedral Cusco di malam hari


Minum Daun Coca
Kota Cusco terletak 3.400 meter di atas permukaan laut. Karena ketinggiannya maka konsentrasi oksigen agak berkurang. Tidak mengherankan kalau para turis di sini mengalami sakit kepala atau perut kembung karena efek samping ketinggian. Letak Cusco yang tinggi membuat para turis harus bersiap diri untuk menghadapi efek samping ketinggian ini.
Namun demikian orang-orang Inca memiliki obat yang mujarab untuk ketinggian. Yakni daun Coca (bahan dasar buat cocain). Daun coca di Cusco dijual bebas seperti permen. Bahkan di Peru sendiri ada teh yang bernama Teh Uña de Gato yang terbuat dari daun coca. Ketika kami tiba di hotel di mana kami menginap, mereka menyarankan kami supaya beristirahat 2 sampai 3 jam sambil minum teh daun coca atau makan daun coca. Ternyata daun coca adalah obat ketinggian dan memperlancar pencernaan sehingga orang tidak pusing bila berada di ketinggian. Orang-orang Inca mengkonsumsi daun coca setiap hari sehingga mereka tidak memiliki masalah dengan ketinggian. Teh daun coca ini membuat kami bertahan untuk menelusuri indahnya Cusco sore dan malam hari.
Kerajaan Inca: Cusco
Setelah makan siang kami dijemput oleh tour guide kami untuk menelusuri kota Cusco. Cusco adalah kota tua pusat kebudayaan Inca zaman dulu. Kami diantar menuju pusat kota yang biasanya dalam dunia hispanik (yang berbahasa Spanyol) disebut Plaza de Armas (pusat kota). Di pusat kota kami menyaksikan megahnya Katedral Cusco. Sebelum disulap menjadi katedral, tempat ini pada zaman Inca adalah Istana Viracocha Inca. Katedral ini dibangun tahun 1539. Orang-orang Inca sangat terkenal dengan perhiasan mereka yang terbuat dari emas. Sisa-sisa emas mereka masih bisa terlihat dalam perhiasan-perhiasan dalam katedral ini.

Kota Cusco dalam bentuk Puma

Yang unik dari Katedral Cusco adalah hiasan-hiasan emas yang merupakan kombinasi antara ajaran Kristen dan Kepercayaan Inca. Misalnya patung bunda Maria yang berbentuks segitiga, patung Marianya adalah lambang kekristenan tetapi segitiganya adalah lambang Inca. Orang Inca mengenal tiga sisi kehidupan yang berputar (inkarnasi) yang dilambangkan dengan Burung Rajawali (El Condor) yakni dunia atas / surga, Puma dunia bumi / manusia dan Ular lambang dunia bawa/mati. Begitu juga dengan La Chacana (Salib Inca). Kosmologi Inca berbentuk seperti salib. Di tengah-tengah simbol La Chacana ini ditempatkan salib Yesus Kristus sehingga terjadilah pembauran antara Kekristenan dan kepercayaan Inca.

La chakana


Kemegahan hiasan-hiasan katedral ini sangat mengagumkan, tetapi tidak bisa difotokan karena dilarang mengambil foto selama di dalam katedral.

Katedral Cusco

La Chacana (salib Inca) dan Gereja Katedral Cusco.
Dari Katedral Cusco kami menelusuri jalan-jalan Inca menuju Istana Qoriqancha. Istana Qoriqancha adalah salah satu istana yang dipenuhi dengan hiasan emas. Di istana ini terdapat Santuario del Sol, tempat pemujaan terhadap Matahari yang dipenuhi dengan emas. Semua tempat pemujaannya dipenuhi dengan emas. Bahkan ditemukan beberapa kuburan yang dikelilingi oleh emas ditempat ini. Selain itu ditempat ini juga ada tempat penyembahan Luna dan Venus (Dewa Bulan dan Venus). Templo de la Luna adalah tempat kuburan para perempuan Inca dan Templo de Venus adalah tempat ritus dan pengurbanan Inca. Tempat ini sekarang telah menjadi Gereja Santo Domingo di mana terdapat seminari dari ordo Dominican.

Istana Qoriqancha yang sekarang menjadi Gereja Santo Domingo.

Qoriqancha pada malam hari


Dari Qoriqancha kami menuju Sacsayhuamán. Sacsayhuaman terletak kurang lebih 2 km di luar Kota Cusco dengan ketinggian 3.700 meter di atas permukaan laut.

Sagsayhuaman

Di sini kita bisa saksikan kekuatan Inca yang membangun kota dengan batu ribuan ton. Di sini menurut para ahli dilakukan ritus terhadap dewa air. Dari sini bisa dilihat kota Cusco dalam bentuk yang sesungguhnya yakni binatang Puma (Lihat gambar di bawah ini)
Di depan Qoriqoncha

Inilah model kota Cusco zaman dulu. Cusco adalah kota yang berbentuk Puma. Sekarang ini bentuk ini tidak bisa dilihat dengan jelas karena perkembangan kota yang besar.
Setelah mengunjungi semua tempat turis di Cusco kami kembali ke Plaza de Armas untuk menikmati indahnya Cusco di malam hari sambil menikmati makan malam. Rasa-rasanya seperti tinggal di Eropa saja karena di sini banyak sekali turis orang Eropa dan juga dari Asia. Setelah makan malam kami cepat-cepat ke hotel untuk beristirahat, menyiapkan diri untuk menikmati perjalanan tour hari berikutnya.
Lembah Urubamba: Ollanta y Tambo
Tepat pukul delapan pagi kami sudah dijemput untuk menelusuri Lembah Urubamba. Perjalanan menuju Lembah Urubamba memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sepanjang perjalanan kita bisa menikmati indahnya pegunungan Andes yang dipenuhi dengan es. Kemudian perjalanan menurun menuju Lembah Urubamba. Urubamba sebenarnya adalah nama sungai yakni Sungai Urubamba. Kadang-kadang daerah ini disebut juga Secret Valley, karena daerah ini merupakan tempat rahasia atau tempat yang baru diketahui oleh orang Spanyol belakangan. Sungai Urubamba merupakan urat nadi perekonomian Inca. Disekitar lembah ini ditemukan daerah-daerah pertanian orang Inca. Berbagai macam tanaman khas Inca ditemukan di daerah ini, misalnya quinua, maca, kiwicha dll. Selain itu di daerah ini juga terdapat industri kain alpaca dari bulu binatang llama.

Lembah Urubamba


Tempat pertama yang kami kunjungi di sini adalah Pisac. Pisac adalah kota di tengah Lembah Urubamba, tempat di mana kita bisa menikmati indahnya hasil kerajinan tangan budaya Inca, seperti kain alpaca dan berbagai jenis hiasan emas dan perak. Di sini kita bisa menikmati juga bagaimana mereka membuat kain alpaca (seperti tenunan songket di NTT).

Pemandangan menuju Lembah Urubamba

Lembah Urubamba
Di kedua ujung lembah yang panjang ini terdapat dua situs penting yang membuat tempat ini disebut sebagai “Secret Valley” (Lembah Rahasia) karena disini ditemukan dua kota rahasia Inca yakni Ollantaytambo dan Machu Picchu.
Ollantaytambo
Ollantaytambo adalah sebuah kota di salah satu ujung Lembah Urubamba. Ini merupakan kota tempat Raja Inca terakhir Manco Inca Yupanqui bertahta dan meneruskan kekuasaannya. Di sini dia membangun kota Inca dengan masyarakat Inca. Civilisasi Inca bisa dipelajari di sini. Keluarga-keluarga Inca masih berada di daerah ini. Sama seperti kota Cusco Ollantaytambo juga merupakan kota yang dibangun dengan bentuk Puma. Di kepala Puma ini terdapat tempat penyembahan terhadap Dewa Matahari yang dalam Bahasa Quechua (Inca) adalah Inti Raymi. Hal yang sangat mencengangkan adalah bahwa kota ini dibangun sesuai dengan tata letak planet dan dibangun di atas gunung dengan bebatuan yang besar. Susah dibayangkan teknologi apa yang mereka gunakan sehingga bisa membangun kota yang begitu megah dan kuat. Karena itu banyak orang mengatakan bahwa kota ini dibangun oleh manusia dari planet lain atau manusia angkasa luar. Tetapi sebenarnya ini adalah ketekunan dan kerajinan orang Inca yang dilandasi oleh kepercayaan mereka terhadap Inti Raymi.

Sisa-sisa reruntuhan Ollantaytambo dan tempat penyembahan Dewa Matahari di puncak Ollantaytambo
Setelah menikmati indahnya Ollantaytambo kami mengunjungi Kampung Chinchero. Kampung Chinchero berada di ketinggian kurang lebih 4070 meter di atas permukaan laut. Di sini adalah perkampungan Inca yang masih meneruskan semua bentuk kerajinan Inca terutama menenun. Di sini para turis menyaksikan bagaimana mereka membuat tenunan dari alpaca (bulu llama). Daerah ini sangat dingin dan memiliki pemandangan yang indah karena berada di ketinggian. Setelah menyaksikan cara mereka menenun kita juga bisa membeli berbagai hiasan atau kerajinan tangan Inca misalnya baju dari alpaca.

Ollanta y Tambo

Setelah itu kami kembali ke Cusco dan beristirahat untuk bersiap-siap menuju kota rahasia berikutnya yakni Machu Picchu yang merupakan salah satu dari keajaiban dunia.
Machu Picchu
Jam 6 pagi kami berangkat menuju Ollanta untuk mengambil kereta menuju Machu Picchu. Tepat pukul 8 pagi kami tiba di Ollanta dan langsung naik kereta api menuju Aguas Calientes. Naik kereta api merupakan suatu hal yang biasa. Tetapi naik kereta api Ollanta ke Aguas Calientes merupakan suatu pengalaman yang khusus bagi saya, karena ini adalah rel kereta api tertinggi di dunia kurang lebih 2000 km di atas permukaan laut. Juga karena kereta api ini melewati lembah di sepanjang sungai seperti berjalan di tengah hutan. Udara yang segar dan dingin membuat kita merasa sepertinya berjalan di tengah hutan.
Di kereta ini saya bertemu dengan semua turis yang bertujuan mengunjungi Machu Picchu. Selain itu patut diketahui juga bahwa untuk sampai ke Machu Picchu bisa dicapai dengan jalan kaki, yang melewati berbagai lembah curam. Bagi yang suka ketinggian dan bertahan dengan udara dingin ini adalah suatu petualangan yang menyenangkan. Bagi mereka yang tidak punya cukup waktu bisa dicapai dengan naik kereta ini. Suasana di kereta sangat menyenangkan. Di sini saya bertemu dengan turis-turis dari Indonesia yang juga dalam perjalanan menuju Machu Picchu. Dua jam perjalanan kereta dengan melewati daerah pertanian, sungai, gua dan hutan membuat perjalanan ini sangat menyenangkan. Apalagi keretanya berjalan dengan pelan supaya para turis bisa mengambil foto.
Di Aguas Calientes kami disambut oleh guide Cusco Travel yang sudah siap menemani kami. Di Machu Picchu makanan dan minuman harganya mahal jadi lebih baik membeli makanan atau minuman seadanya sebelum berangkat menuju Machu Picchu. Dari Aguas Calientes kami naik bus yang mengantar kami menuju kaki Machu Picchu. Perjalanan ini kurang lebih memakan waktu sekitar 30 menit. Di gerbang Machu Picchu sudah terdapat begitu banyak turis yang keluar masuk menuju situs terkenal ini.

Llama dan perumahan Inca

Melihat Machu Picchu dari foto atau video memang sangat berbeda kalau dilihat secara langsung. Machu Picchu sebenarnya tidak lebih dari sekedar reruntuhan bangunan kota tua di atas puncak gunung. Yang menarik sebenarnya adalah sejarah kota ini dan letaknya di sela-sela gunung lain yang menjulang tinggi dan curam. Rasanya seperti berada di puncak dunia. Pemandangan hijau dan awan yang menyelimuti tempat-tempat di sekitarnya membuat daya magis Machu Picchu menjadi sesuatu yang unik.
Machu Picchu sendiri berarti Gunung Tua, yakni sebuah gunung yang berada di belakang situs Machu Picchu. Tempat ini adalah tempat peristirahatan bagi bangsawan Inca. Di sini terdapat tempat pertanian, sekolah, rumah dan tempat penyembahan bagi Inti Raymi. Tempat ini susah dicapai oleh para penjajah Spanyol karena letaknya yang sulit dicapai. Saat dikejar-kejar Spanyol kaum bangsawan Inca melarikan diri dan menyembunyikan diri di sini. Daerah ini akhirnya ditinggalkan oleh orang Inca juga karena penyakit yang mereka alami.

Machu Picchu

Tepat jam 12.30 kami memasuki situs Machu Picchu ini. Guide yang membawa kami menjelaskan sejarah Machu Picchu dan sistem kehidupan yang mereka jalankan di daerah ini. Menarik dan luar biasa. Di sini juga kita bisa temukan tanaman coca, minuman utama orang Inca. Setelah kurang lebih satu setengah jam mengikuti guide kami keluar untuk beristirahat sebentar. Setelah itu saya masuk lagi ke situs Machu Picchu untuk menapakinya mulai dari tempat yang paling tinggi menuju yang paling rendah. Di sini saya beristirahat siang sedikit di atas rumput Machu Picchu sambil menikmati indahnya alam Inca.

Machu dan Lembah Urubamba

Setelah beristirahat sebentar akhirnya tepat jam 4 sore kami turun dari Machu Pichu ke Aguas Calientes. Di Aguas Calientes bisa dibeli berbagai cinderamata sebagai kenangan dari Machu Picchu. Aguas Calientes terasa seperti kota kecil internasional karena semua suku bangsa bisa ditemukan di sini. Di sini saya bisa bertemu dengan turis dari Argentina, Australia, USA, Jepang, Indonesia, China, India dll. Tepat pukul 6 sore kami naik kereta untuk kembali ke Ollanta. Perjalanan malam pulang ke Ollanta tidak seramai perjalan kereta paginya, karena hampir semua turis tidur karena capeh menikmati indahnya Machu Picchu. Tepat jam 8 malam kami tiba di Ollanta dan tour kami sudah siap untuk membawa kami pulang ke Cusco di mana saya menginap. Keesokan harinya pagi-pagi saya kembali ke Lima Peru dalam penerbangan yang memakan waktu satu setengah jam.

Bersama sekumpulan orang Asia di pintu masuk Machu Picchu

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: