Skip to content

SITUASI EKONOMI PERU 2010: ANTARA LAPORAN DAN KENYATAAN

Juni 1, 2011

DATA BARU TENTANG KEMISKINAN DI PERU

Pertengahan bulan Mei 2011, INEI (Instituto Nacional de Estadística e Informática = Badan Statistik dan Informasi Nasional) mengeluarkan data baru dan resmi tentang kemiskinan di Peru. Institut ini melaporkan bahwa pada tahun 2010 ada sebanyak 31.3% orang Peru berada dalam kondisi kemiskinan. Kemiskinan urban menurun 2 point dari 21.1% tahun sebelumnya menjadi 19.1% tahun 2010; sementara kemiskinan rural menurun sebanyak 6.1 point dari 60.3% menjadi 54.2%.

Dalam laporan itu dikatakan bahwa seseorang tergolong sebagai orang miskin apabila memiliki biaya hidup personal (per capita) yang tidak melebihi upah mínimum rata-rata (yang dikenal dengan kemiskinan moneterial), yang berbeda di setiap daerah di Peru.

Daerah-daerah di Peru umumnya dibagi dalam tiga kelompok; daerah Pantai (Costa) , Pegunungan (Sierra) dan Hutan (Selva: Amazon). Info INEI menunjukkan bahwa kemiskinan di daerah Hutan rural (hutan Amazon) menurun 11.8 point dari 57.4% menjadi 45.6%; sementara di daerah Pantai menurun sebanyak 5.8% dari 40.6% menjadi 34.8%. Di daerah Hutan urban menurun 5.1 point dari 32.5% menjadi 27.4%; di daerah Pegunungan rural menurun sebesar 4.4 point dari 65.6% menjadi 61.2% dan didaerah Pegunungan urban menurun sebesar 4.0 point dari 31.3% menjadi 27.3%.

Kepala INEI, Anibal Sánchez Aguilar, menyatakan dalam eskposisinya bahwa di empat belas daerah rata-rata kemiskinan melebihi rata-rata kemiskinan nasional. Diantaranya: Huancavelica (66,1%), Apurímac (63,1%), Huánuco (58,5%), Puno (56,0%) , Ayacucho (55,9%), Amazonas (50,1%), Cusco (49,5%), Loreto (49,1%), Cajamarca (49,1%), Pasco (43,6%), Piura (42,5%), Lambayeque (35,3%), La Libertad (32,6%) y Junín (32,5%).

Dalam hal kemiskinan ekstrim, hasil studi mereka menunjukkan penurunan dari 11.5% menjadi 9.8%, di mana terjadi penurunan secara besar-besaran di daerah pedesaan 4.5% sementara di daerah urban hanya mengalami penurunan sebesar 0.3%.

Sánchez menyatakan bahwa alasan mendasar dari situasi ini adalah perkembangan ekonomi yang telah kita alami. Dia mengafirmasikan bahwa negara Peru telah mengalami tingkat perkembangan ekonomi rata-rata yang melebih 7% dalam lima tahun terakhir dan dalam sepuluh tahun terakhir telah megalami peningkatan sebesar 5%, dan ini nampak dalam penurunan angka kemiskinan.

Opini yang sama juga disampaikan oleh Bank Dunia yang menyatakan bahwa perkembangan ekonomi Peru dari tahun 2002 sampai 2008 sangat baik. Perkembangan negara Peru dalam periode ini sangat luar biasa dan diakui oleh berbagai media. Perkembangan makroekonomi sangat substansial dan ini nampak dalam inflasi yang rendah dan stabil. Perkembangan PBI per kapita berkembang sangat tinggi seperti di negara-negara kaya, suatu kenyataan ekonomi yang luar biasa bagi Peru. (lihat El Mercado p.XVI).

Namun demikian, laporan-laporan ini disanggah oleh berbagai kalangan yang menyatakan bahwa perkembangan ekonomi Peru sebenarnya jauh dari kenyataan yang sesungguhnya di masyarakat. Mantan kepala INEI selama masa pemerintahan Paniagua dan Toledo, Farid Matuk, menyatakan bahwa 17 point penurunan angka kemiskinan selama Pemerintahan Alan Garcia sebenarnya tidak benar. Penurunan hanya terjadi maksimal 10 point.

Sementara itu MCLP = Mesa de Concertación de Lucha Contra la Pobreza memberikan informasi mereka tentang indeks kesejahteraan yang kelihatan. Berbeda dengan INEI, mereka memperhitungkan kemiskinan tidak hanya dari segi kemiskinan moneter, tetapi juga dalam hal defisit kalori dan kebutuhan-kebutuhan primer yang tidak terpenuhi. Dengan memperhitungkan faktor-faktor itu maka mereka menyatakan bahwa 52.1% keluarga Peru berada dalam situasi miskin. Di daerah rural meningkat menjadi 76.8% rumah. Ketua MCLP, Federico Arnillas, menyatakan bahwa perkembangan perekonomian yang dinyatakan negara ini dalam beberapa periode terakhir tidak menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat dalam berbagai dimensinya.

KEMISKINAN ANAK-ANAK

Penelitian terbaru dari Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin dan Karibe dari PBB (CEPAL) dan UNICEF, dalam Kemiskinan Infantil di Amerika Latin dan Karibe, menunjukkan bahwa 45% anak-anak dan remaja dari daerah ini berada dalam situasi miskin; dan Peru merupakan satu dari sekian negara yang memiliki tingkat kemiskinan anak-anak terbesar (lihat hal 39 dari laporan tersebut) di mana lebih dari 2/3 anak-anak adalah miskin (hal. 40). Mereka mengalami kesulitan dalam mengakses pelayanan dasar akan kesehatan seperti air minum dan air bersih.

Dokumen ini menunjukkan bahwa negara-negara seperti Bolivia, El Salvador, Paraguay, Peru dan Republik Dominicana, 25% dari anak-anak mengalami kesulitan besar akan pelayanan air minum. Sementara di Peru dan Bolivia anak-anak tidak mendapat akses air bersih antara 21-31% dan hidup dalam situasi yang mengenaskan. Dalam hal akses pendidikan Peru memiliki lebih dari 10% anak-anak yang berumur 6-17 tahun yang tidak pergi ke sekolah. Di sini juga diberitahukan bahwa ketidakseimbangan tidak hanya dalam bidang pendidikan tetapi juga dalam situasi ekonomi di keluarga, asal dan etnik mereka. (hal 69)

Informasi ini mengatakan kepada kita bahwa hampir setengah dari anak-anak di Amerika Latin dan Karibe hidup di rumah-rumah dengan pendapatan yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dan ada sekitar 4.1 juta keluarga dengan anak-anak yang menderita kekerasan atas hak-hak mereka. (hal 16)

Juga laporan ini mengatakan bahwa eksklusi sosial adalah salah satu penyebab situasi ini. Eksklusi sosial dilihat sebagai suatu situasi yang langsung menyebabkan kemiskinan anak-anak dan ini menjadi tema yang penting dalam laporan ini. (hal 26)

Laporan ini menganjurkan bahwa cara untuk menghancurkan perputaran kemiskinan menuntut sebuah proses pengintegrasian politik sosial, politik tenaga kerja dan politik makroekonomi. Juga akses terhadap makanan, kesehatan dan pendidikan, dan penurunan situasi ketidaksamarataan sosioekonomi.

Dalam hal ketidaksamarataan etnik laporan ini meminta supaya anak-anak indígenas dan keturunan Afrika harus menjadi subyek dalam politik publik dengan mendukung mereka untuk memiliki akses yang sama seperti anak-anak lainnya seperti akses terhadap perlindungan kesehatan, pendidikan sesuai dengan kebudayaan mereka, beasiswa dll. (lihat halaman 134).

Mereka memandang perlu untuk meningkatkan sumber daya yang berjuang untuk melindungi hak-hak anak, memberikan kesehatan dan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anak dan juga perlindungan sosial yang besar bagi anak-anak.

LAPANGAN KERJA

Humberto Campodónico menunjukkan bahwa gaji para pekerja di Lima sangat rendah. Dia mengatakan bahwa dari 4.3 juta yang bekerja secara aktif (masyarakat kerja aktif) yang terdapat di Lima, 56.6% bekerja secukupnya dengan salari sebesar 745 soles sebulan atau lebih, dan 43.4% bekerja dengan salari sebesar 745 soles sebulan atau kurang. Pemasukan per keluarga di Lima seperti yang dilaporkan Bulan Desember 2010 sebesar 1.141 soles per bulan dan harus diingat pendapatan per keluarga ini minimal untuk dua orang.

Baginya situasi ini terjadi bukan karena rendahnya produktivitas melainkan karena turunnya partisipasi organisasi pekerja dalam kemampuan negosiasi upah, sebagai konsekwensi dari peraturan yang dibuat Fujimori, yang masih tetap berlaku sampai sekarang ini. Organisasi-organisasi pekerja telah berkurang dari 8.5% menjadi 4.5% sekarang ini. Ini penting karena salah satu solusi untuk meningkatkan gaji para pekerja adalah banyaknya organisasi-organisasi pekerja dan tekanan yang bisa mereka berikan kepada pemerintah dan perusahaan.

Koran República menyatakan bahwa ini merupakan sesuatu yang paradoks, karena sementara pasar bebas didengungkan di mana-mana dan harga ditentukan oleh pasar bebas, para pekerja tidak melihat keuntungan dari kebebasan ini. Hanya dengan bersatu lewat organisasi pekerja mereka mampu berorganisasi dan bernegosiasi secara kolektif untuk melakukan tuntutan kenaikan upah bagi para pekerja.

Dalam Panorama Laboral 2010 Amerika Latin dan Karibe (dari ILO) dinyatakan bahwa selama tahun 2010 tuntutan upah mínimum tidak memiliki kekuatan yang berarti di empat negara yakni El Salvador, Honduras, Peru dan República Dominicana (hal 39).

Juga dikatakan bahwa dalam kasus Peru tahun 2010 ada banyak pekerja formal di perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki jaminan apa-apa, hampir setengah dari para pekerja tidak memiliki perjanjian jaminan sosial (lihat hal 46).

Sementara itu Alfredo Torres menyatakan bahwa apa yang terjadi di masyarakata adalah: sektor swasta modern bukan merupakan bagian dari 1/5 masyarakat yang secara aktif bekerja. Sebagian besar orang Peru bekerja secara independen (35%), pekerja di rumah (14%), pekerja di perusahaan (19%) yang seringkali dibayar di bawah upah mínimum rata-rata (550 soles, kurang lebih 140 Euro) dan hampir pasti tidak mendapat jaminan sosial.

Sebuah dokumen dari Bank Dunia menyatakan bahwa walaupun mengalami peningkatan ekonomi yang luar biasa, Peru tetap menghadapi masalah penting dalam bidang manajemen, misalnya rendahnya produktivitas pekerja, tingginya informalitas dan pelannya perkembangan upah riil. Upah riil jatuh dibelakang produktifitas pekerja selama sepuluh tahun terakhir, dan berkembang dengan pelan sekali bila dibandingkan dengan negara lain.

KEMISKINAN DAN KESENJANGAN MASIH EKSIS

Surat kabar harian Gestion mempublikasikan sebuah studi dari Konsultan Macroconsult dimana dinyatakan bahwa: ketidaksamarataan pendapatan antara keluarga-keluarga di Peru terus melebar. Di sini mereka mengatakan bahwa hanya 14% keluarga di Peru memiliki pendapatan di atas 1000 soles per bulan. Untuk itu kita bisa lihat laporan berikut ini:

Jumlah keluarga
Persentasi total keluarga Pendapatan rata-rata bulan keluarga (dalam soles)
115 ribu 1.58 % Lebih dari 3,000
379 ribu 5.2 % Antara 1,500 dan 3,000
551 ribu 7.7 % Antara 1,000 dan 1,500
1´542 ribu 21.2 % Antara 550 dan 1,000
2´518 ribu 34.6 % Antara 247 dan 550
1´210 ribu 16.5 % Antara 144 dan 247
972 ribu 13.3 % Kurang dari 144

Jika kita mengambil data yang diberikan oleh INEI: bahwa angka kemiskinan moneterial nasional adalah 263.80 soles dan kita kalikan dengan empat anggota keluarga (rata-rata anggota keluarga di Peru) akan menjadi 1.055.20 soles. Dan jumlah ini jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan laporan bulan Mei kemarin.

Keraguan ini membuat Forum Solidaritas Peru melakukan wawancara dengan ekonom Raul Mauro tentang apakah bisa berbicara tentang kelas menengah ketika 86% rumah di Peru menerima kurang dari 1000 soles perbulan?. Mauro menyatakan bahwa jika melihat data ini, itu berarti kelas menengah yang menderita. Dari data itu bila dilihat kelas yang paling tinggi yang diwakili oleh 115 ribu keluarga yang menerima lebih dari 3000 soles per bulan, sebenarnya kelas ini juga bukan merupakan kelas yang tinggi karena kalau dibagi dengan empat orang akan menjadi 1000 soles per orang dan ini bukan merupakan pendapatan yang tinggi. Jadi sebenarnya apa yang terjadi di lapangan jauh berbeda dengan apa yang dilaporkan sekarang ini.

Di Peru jika seseorang memiliki pendapatan 1.200 sampai 1.500 soles per bulan berdasarkan harga yang ada bisa digolongkan menjadi kelas menengah. Tetapi jika memiliki empat anggota keluarga maka seharusnya kalau mau tetap dikelas menengah harus mendapat pendapatan sebesar lebih dari 6 ribu soles. Dan harus diingat bahwa ide kelas menengah adalah sebuah penggolongan yang lebih luas, dan bukan hanya berdasarkan pendapatan. Ide kelas menengah merupakan sebuah penggolongan yang dicirikan dengan pendapatan tetap bulanan, memiliki jaminan masa tua, punya akses terhadap hukum, punya rumah dan lain-lain.

Informasi yang diberikan oleh Alfredo Torres dalam artikelnya yang sangat menarik Orang Peru Tahun 2010, memunculkan keraguan yang besar tentang situasi perekonomian Peru sesungguhnya. Dia memberikan informasi yang penting ini dalam piramid sosioekonomi Peru melalui level atau tingkat sosioekonomi:
Tingkat Sosio-ekonomi Perú Lima Kota-kota dengan 20.000 penduduk atau lebih Kota yang jumlah penduduknya sampai 20.000 orang Pendapatan Keluarga Rata-Rata
(rata-rata dalam soles)
A
bersama
B
13 %
22%
12 %
1 % 9,500
2,400
C 23 % 32% 38 % 8 % 1,300
D 29 % 30% 27 % 28 % 850
E 38 % 16% 23 % 63 % 600

Sumber pembanding:

1. Banco Mundial El Mercado Laboral Peruano durante el Auge y Caída (Washington, Banco Mundial, diciembre 2010)
2. Campodónico, H. ¿Por qué son tan bajos los salarios? La República, 21 de marzo del 2011
3. Comisión Económica para América Latina y el Caribe de las Naciones Unidas (CEPAL) y Fondo de las Naciones Unidas para la Infancia (UNICEF), Pobreza infantil en América Latina y el Caribe (diciembre 2010) en http://www.cepal.org/publicaciones
4. El Comercio “En las provincias se evidencian las inequidades de la infancia”, 19 mayo 2011
5. Forum Solidaridad Perú “86% de familias peruanas viven con menos de 1,000 soles mensuales” en http://www.psf.org.pe/aperu/publicar/nacionales
6. Hidalgo Suárez, Luis “Sólo 14 de cada 100 hogares tienen ingresos mayores de S/. 1,000” en Gestión 18 de mayo de 2011
7. INEI Evolución de la Pobreza en el Perú al 2010 (Lima, mayo 2011)
8. La República “Día de los Trabajadores”. Editorial del 1 de mayo del 2011.
9. Matuk, Farid “García adulteró cifras de pobreza sistemáticamente” en Diario 16, 20 de mayo de 2011
10. Organización Internacional del Trabajo (OIT) Panorama Laboral 2010. América Latina y el Caribe (Lima, OIT, 2010)
11. Queiroz, Camila, Estudio revela que el 45% de los menores de 18 años padece pobreza infantil, en Adital, 18 de mayo del 2011
12. Torres, A. “Los Peruanos de 2010” en L. Pásara (ed.) Perú ante los desafíos del siglo XXI (Lima, PUC, 2011).

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: