Skip to content

SIMPOSIUM TEOLOGI INDIAN IV: MENEMPATKAN BEBERAPA KRITERIA FUNDAMENTAL TEOLOGI PASTORAL

Mei 18, 2011

Pada tanggal 28 Maret sampai tanggal 2 April 2011, di Lima Peru diadakan Simposium Teologi Indian IV yang dihadiri oleh para uskup, pastor, suster dan awam, dengan tema “ El sueño de Dios en la creación humana y en el cosmos” (Impian Tuhan dalam penciptaan manusia dan kosmos). Para pembicara dalam simposium itu antara lain Mgr. Rodolfo Valenzuela dari CELAM (Konferensi Episkopal Amerika Latin),  Mgr. Luis Francisco Ladaria dari Konregasi Doktrin Iman, Mgr. Antonio Zerdin OFM dari Peru, Ketua Komisi Katekesis Keuskupan, Pastoral Biblis dan Pastoral Indigena, dan P. Jaime Regan, Dosen Antropologi dari Universitas San Marcos (Universitas Pertama di Amerika Latin) dan Nuncio Apostolico di Peru Mgr. Bruno Musaró.

Simposium ini berakhir dengan  “Kriteria fundamental teologi pastoral”  berikut ini:

  1. Kristus hadir di semua kebudayaan
  2. Seperti Yesus, kita juga mengekspresikan diri kita dengan perumpamaan-perumpamaan yang memiliki makna kehidupan.
  3. Selalu berbicara tentang bagaimana mengenal hati semua kebudayaan masyarakat indígena dan bersolider dengan mereka.
  4. Pelaku utama inkulturasi adalah masyarakat indígena (asli): para pemimpin spiritual mereka, seperti para murid Yesus Kristus, memiliki peran aktif dalam komunitasnya dan para agen pastoral harus bekerja sama dengan proyek kehidupan mereka.
  5. Menjunjung tinggi nilai-nilai teologis dari Teologi Indian
  6. Dalam rumah pendidikan, seperti di Seminari, para murid diajar untuk mengenal semua mitos dan kosmovision dari masyarakat indígena dan mengajarkan mereka teologi yang secukupnya supaya bisa mengerti mitos dan kosmovision tersebut.
  7. Karya pastoral didasarkan pada Kristologi Paskual Pneumatic dan Kosmik.
  8. Mendeskolonisasikan semua bentuk pemikiran, pengetahuan dan perasaan para agen pastoral untuk mendorong sebuah pertobatan dan pengakuan yang sejati. Ini adalah jalan supaya masyarakat Indian memiliki hidup yang berlimpah dalam Kristus.
  9. Mendialogkan dan memperjelas proses eklesial dengan pergerakan-pergerakan indigenas.
  10. Menjunjung tinggi keragaman, bahwa sejak awal mula, keragaman ini diciptakan oleh Tuhan dan ini bukanlah ciptaan manusia.
  11. Keindahan dan kebijakan Tuhan terekspresikan tidak hanya dalam keragaman budaya masyarakat indígenas melainkan juga dalam keragaman tumbuhan dan binatang yang berada dengan mereka.
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: