Skip to content

PEMILIHAN PRESIDEN PERU TAHAP KEDUA: SIAPA YANG KURANG BERBAHAYA?

Mei 18, 2011
Ollanta Humala dan Keiko Fujimori

 

Pemilihan umum Presiden tahap kedua di Peru tinggal menunggu waktu. Ada berbagai analisis yang dilakukan untuk menunjukkan siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam pemilihan ini.

Berbagai hasil jajak pendapat (PUCP, Datum, Ipsos Apoyo) menunjukkan bahwa kemungkinan besar kedua calon ini memiliki kekuatan yang sama. Kemungkinan besar bahwa seorang calon akan menang dari calon yang lain dengan selisih suara yang sedikit.

Berdasarkan laporan Ipsos Apoyo, Humala memiliki banyak dukungan dari daerah-daerah khususnya wilayah tengah dan selatan, lebih khusus lagi di daerah pedesaan. Sementara Keiko Fujimor, memiliki banyak dukungan di Lima, dari kalangan perempuan dan anak muda.

Hasil jajak pendapat juga menunjukkan bahwa ada kurang lebih 20% pemilih yang masih belum memutuskan siapa yang akan mereka pilih dalam pemilihan ini. Mereka inilah yang akan menentukan siapa yang menjadi Presiden Peru berikutnya. Masih terlalu cepat untuk mengatakan siapa yang akan mereka pilih.

Namun demikian adalah lebih baik kita melihat alasan-asalan mengapa para pemilih mendukung calon yang satu dan menolak calon yang lain.

KEIKO FUJIMOR (FUERZA 2011)

Dalam pemilihan presiden tahap pertama calon ini mendapat dukungan besar dari golongan yang secara sosial ekonomis merupakan golongan menengah ke bawah yang menghargai kerja bapaknya Alberto Fujimori dalam masa pemerintahan 1990-2000. Bagi mereka bapaknya menjalan pemerintahan yang baik saat itu karena:

  1. Membuat negara teratur; perekonomian yang lebih baik daripada pemerintahan sebelumnya maupun juga penumpasan gerakan terorisme Sendero Luminoso (SL) dan Pergerakan Revolusioner Tupac Amaru (MRTA=Movimiento Revolucionario Túpac Amaru). Fujimori membuat negara menjadi aman dan teratur.
  2. Fujimori membuat negara dirasakan kehadirannya di komunitas dan masyarakat pedesaan, melalui berbagai proyek dan kunjungan yang dilakukan Fujimori. Khususnya di daerah-daerah yang tidak pernah dikunjungi oleh para presiden setelahnya. Di sini yang penting bukan saja proyek bagi daerah tersebut tetapi juga dikenal dan diterima oleh masyarakat.

Hal inilah yang menyebabkan Otra Mirada (website) mengatakan bahwa banyak di pedesaan hanya mengenal Fujimori dan Keiko juga menggunakan nama besar bapaknya untuk memperkenalkan dirinya dan menyatakan bahwa pemerintahannya nanti adalah perpanjangan pemerintahan bapaknya[1].

Untuk sebagian besar orang yang berpandangan seperti ini, tuduhan atas Fujimori sebagai  koruptor dan pemerkosa HAM tidak bisa diterima bahkan mereka mengatakan bahwa itu bukan untuk Alberto Fujimori melainkan untuk Montesino (Mantan Kepala Intelijen Nasional saat Fujimori berkuasa). Dan yang lain juga berpikir bahwa ini adalah “biaya” yang perlu untuk membasmi terorisme. Inilah yang membuat Keiko Fujimori menang dengan 3.449.562[2] suara orang Peru dan merupakan 23.55% dari suara sah dan didukung oleh 37 anggota kongres.

Pada pemilihan tahap kedua nanti, terjadi perubahan pendukung bagi Keiko. Golongan masyarakat yang secara ekonomis menengah ke atas sekarang mendukung Keiko. Adapun alasan dukungan terhadap Keiko adalah sebagai berikut:

  1. Sebagian besar dari pendukungnya ini adalah para pengikut pendekatan ekonomi optimistas bagi pembangunan di Peru[3]. Bagi mereka prioritas utama adalah menjaga arah perekonomian dan mereka berpikir Keiko Fujimori bisa menjamin arah perekonomian ini. Seperti yang dikatakan oleh Martin Tanaka,  “Dengan cepat Keiko Fujimori telah menjadi calon yang bisa menjaga kestabilan ekonomi, politik dan sosial”[4].
  2. Ketakutan yang mereka rasakan sebagai akibat berita-berita media komunikasi atas calon presiden lain dari partai Gana Peru. Mereka berpikir bahwa apa yang dilakukan oleh Ollanta Humala akan mengimitasi apa yang dilakukan oleh Hugo Chavez di Venezuela sekarang, dan menasionalisasi semua proyek-proyek negara dari tangan swasta. Juga mereka menambahkan bahwa Ollanta Humala nanti kalau sudah jadi presiden akan menghabisi kebebasan pers dan mengubah konstitusi supaya dirinya bisa terpilih lagi menjadi presiden berikutnya.

Selain itu harus digarisbawahi bahwa Keiko Fujimori mendapat dukungan dari pemerintahan sekarang Alan Garcia. Salah satu bentuk dukungan yang paling jelas adalah dari Menteri Ekonomi dan Keuangan, Ismael Benavides, dengan menciptakan opini publik yang berorientasi untuk menciptakan kepanikan bagi kaum investor dengan membesar-besarkan konsekuensi perkembangan ekonomi seandainya Humala nanti jadi presiden. Para investor merasa ketakutan karena proyek mereka akan diambilalih oleh pemerintahan Ollanta seandainya dia nanti menjadi presiden.

OLLANTA HUMALA (GANA PERU)

Ollanta Humala mendapat dukungan suara sebanyak 4.643.064 orang atau sebanyak 31.69% dari total suara pemilih yang sah. Dan ini membuatnya mendapat dukungan dengan 46 kursi di Kongres. Sama seperti Keiko Fujimori, Ollanta mendapat dukungan besar dari golongan masyarakat yang secara ekonomis berasal dari kelas menengah ke bawah, dengan alasan:

  1. Mereka menggunakan pendekatan ekonomi kritis tentang bagaimana pemerintah mengatur perkembangan ekonomi di negara Peru.
  2. Juga karena mereka melihat keburukan yang terjadi di negara Peru: tidak adanya distribusi hasil pembangunan yang merata, penerapan sistem perekonomian yang tidak menjaga lingkungan hidup. Juga karena kurangnya perhatian terhadap keamanan masyarakat yang disebabkan oleh narkotrafik, tingkat kriminalitas yang semakin tinggi. Juga karena alasan korupsi di kalangan pemerintahan sekarang yang semakin menjadi-jadi.

Dalam pemilihan presiden tahap kedua Ollanta Humala akan mendapat dukungan dari orang-orang yang menyadari:

  1. Keiko Fujimori tidak sanggup secara moral untuk memimpin Peru karena telah mengambil bagian dari pemerintahan bapaknya, sebagai first lady(saat pemerintahan Alberto Fujimori), yang menggantikan posisi mamanya. Karena itu Susan Higuchi dalam sebuah wawancara di Majalah Caretas mengatakan bahwa “Keiko Fujimori meninggalkan saya dan lebih memilih uang kotor dari bapaknya, bagi saya dia memiliki wajah setan…Seperti malaikat kalau bertemu dengan orang di luar. Bagi saya, dia itu setan. Saya mengenalnya dengan baik dalam keluarganya”[5].
  2. Sebagian besar orang yang mengelilingi Keiko Fujimori adalah orang-orang yang sama saat pemerintahan bapaknya Alberto Fujimori dan sebagian dari mereka memiliki hubungan dengan Montesino. Selain itu, Keiko sendiri dalam beberapa wawancara publik menyatakan bahwa dia akan terus dengan orang-orang yang mengelilinginya sekarang. Misalnya, Martha Chávez (tim Keiko) secara publik mengancam Presiden Kekuatan Pengadilan César San Martín. Hal ini yang membuat Cecilia Blondet, Direktur Dewan Nasional untuk Etika Publik (Proética) mengatakan, “Tidak bisa ditolerir bahwa Presiden Kekuatan Pengadilan mendapat ancaman dan ini adalah sinyal bagaimana orang-orang Fujimori akan bertindak kalau mereka memiliki kekuasaan nantinya”[6].
  3. Kalau Keiko Fujimori terpilih sudah pasti dia akan membebaskan bapaknya dan yang akan memimpin negara ini secara real adalah bapaknya dan bukan Keiko. Dan kalau bapaknya dibebaskan dan memiliki kekuatan politik ada bahaya bahwa bapaknya akan melakukan politik balas dendam terhadap semua mereka yang menjebloskannya ke dalam penjara. Juga hal lain yang tidak kalah penting adalah, rahasia keluarga Fujimori yang berada di tangan Montesino. Supaya rahasia keluarga ini terjamin, maka sudah seharusnya Montesino juga akan dibebaskan. Dan seandainya Montesino dibebaskan, ini akan membawa malapetaka bagi banyak lawan politiknya, bila dia menggunakan juga politik balas dendam bagi mereka.
  4. Tetapi juga mereka menyadari bahwa berbagai ketakutan yang dihadapi oleh Humala bisa juga terjadi dengan Keiko Fujimori. Ernesto de la Jara mengatakan bahwa Humala tidak dipercayai karena bisa saja dia melakukan hal-hal negatif yang dibayangkan orang tentang pemerintahannya, padahal dia belum memerintah! Sementara (Alberto) Fujimori sudah melakukannya: ingin menjadi presiden untuk ketiga kalinya, lebih dari yang diijinkan oleh konstitusi; melawan kebebasan pers dan hak independen organisasi-organisasi sosial; pemerintah yang didukung oleh militer; mengubah konstitusi; memiliki hubungan yang kuat dengan Chavéz; menjadi populis tetapi membiarkan kekayaan negara berada di tangan asing[7].

 

DUA KRITERIA PENTING SAAT MEMILIH PRESIDEN TAHAP KEDUA:

Sebanyak 6.554.537 pemilih akan memilih Presiden Peru pada tanggal 5 Juni nanti. Ada berbagai pemikiran yang berkembang di masyarakat sekarang ini tentang keduanya, yang bagi sebagian besar masyarakat bukan merupakan calon presiden yang baik. Walaupun demikian, keduanya harus dipilih. Lalu bagaimana kriteria para pemilih untuk memilih presiden kali ini?

  1. 1.       Siapa yang kurang berbahaya?

Bagi kebanyakan orang Peru, kedua calon sangat berbahaya untuk Peru, karena itu banyak yang memilih untuk golput dengan harapan bahwa pemilihan ini menjadi tidak sah, dianulir karena banyak yang tidak memilih. Dan kemungkinan bahwa pemilu ini tidak sah bila lebih dari 50% pemilih sah memilih untuk golput. Nampaknya cara ini kurang efektif karena jumlah suara yang mendukung kedua calon presiden pada tahap pertama sudah melebihi 50% suara.

Untuk mereka yang berkecimpung dengan aktif dalam dunia ekonomi, ancaman yang terbesar bagi mereka adalah perubahan arah perekonomian Peru, karena itu Ollanta dirasakan sebagai calon yang lebih berbahaya dan karena itu lebih memilih Keiko Fujimori.  Mereka juga berharap bahwa Keiko Fujimori akan menjaga demokrasi, dan bahwa dirinya sendiri yang berkuasa dan bukan bapaknya, karena itu tidak akan membahayakan demokrasi.

Sementara di pihak lain, bagi mereka yang berkecimpung di dunia hak asasi manusia, demokrasi dan lingkungan hidup Keiko Fujimori adalah yang paling berbahaya. Opini ini tidak hanya karena pemerintahan bapaknya dulu dan siapa-siapa orang yang mendukungnya sekarang ini, melainkan juga dengan melihat apa yang terjadi dengan media komunikasi sekarang ini, semuanya dibeli oleh Keiko Fujimori. Ini akan membahayakan demokrasi dan Peru bisa kembali seperti yang terjadi saat pemerintahan bapaknya.

  1. 2.       Siapa yang paling berkuasa ketika menjadi Presiden?

Keiko Fujimori: dari berbagai análisis menunjukkan bahwa Keiko Fujimori, kalau dia jadi Presiden, akan memiliki kekuasaan yang besar dan kekuasaannya ini susah untuk dinetralisir atau diimbangi. Untuk itu kita lihat beberapa unsur kekuasaan yang ada di Peru:

  • Dalam bidang kekuatan politik: Keiko tidak hanya memiliki kekuatan negara tetapi juga memiliki dukungan partai dan pergerakan sosial lainnya. Para pendukung Fujimori yang berjumlah kurang lebih 20% dari penduduk Peru telah menjadi sebuah kekuatan politik penting di Peru. Dan tidak hanya dalam bidang politik, juga dalam bidang ekonomi. Bahaya nepotisme, klientisme dan korupsi sangat besar apabila dia menjadi presiden.
  • Dalam bidang kekuatan ekonomi: dia didukung oleh perusahaan-perusahaan besar nasional dan luar negeri, juga mendapat dukungan dari Institusi Keuangan Internasional seperti Bank Dunia dan IMF.
  • Dalam bidang kekuatan ideologi: tidak diragukan lagi bahwa sebagian besar media komunikasi dibeli oleh Keiko Fujimori. Kelompok El Comercio (kelompok media terbesar di Peru) dengan koran El Comercio, Trome, Gestion, El Peru 21 dan juga TV America Television dan Canal N sudah berada di tangan Fujimori. Kelompok EPENSA yang juga memiliki begitu banyak cabang di daerah-daerah juga mendukung Keiko Fujimori. RPP (Radio Pemerintah Peru) dan hampir sebagian besar radio di Peru mendukung Keiko Fujimori. Selain itu Keiko Fujimori mendapat dukungan kuat dari pihak Gereja Katolik melalui Kardinal Cipriani, yang menempatkan beberapa anggota Opus Dei dalam pemerintahan Keiko Fujimori seperti Rafael Rey dan Martha Chavéz sebagai orang penting.
  • Dalam bidang kekuatan militer: dukungan terhadapnya sampai sekarang ini belum terlihat dengan jelas. Tetapi sudah bisa diprediksi apa yang dilakukan Keiko, mengambil kekuatan militer supaya proyek-proyeknya berjalan dengan lancar. Namun demikian terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan seperti ini.
  • Dalam bidang kekuatan sosial: dilihat bahwa Keiko Fujimori memiliki kemampuan seperti bapaknya untuk memobilisasi masyarakat yang menggunakan politik klientisme dan memanfaatkan kekuatan yang dimilikinya dalam pemerintahan.

Ollanta Humala:

  • Dalam bidang kekuatan politik: Saat Ollanta Humala menjadi presiden dia akan menghadapi kekuatan oposisi yang besar dari semua partai politik lainnya: PPC (Partido Popular Cristiano=Partai Popular Kristen), Apra, Fujimorisme dll. Dan Gana Peru jauh lebih lemah dibandingkan dengan Fujimorisme, dengan kata lain, kekuatan politik Ollanta Humala jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan Keiko Fujimori.
  • Juga tidak mendapat dukungan atau simpati dari kekuatan ekonomi.
  • Juga tidak mendapat dukungan kekuatan dari kekuatan ideologi misalnya media komunikasi dan Gereja.
  • Dalam bidang kekuatan militer: dia tidak mendapat dukungan dari pihak Angkatan dan Laut dan Udara kecuali dari Angkatan Darat.
  • Dalam bidang kekuatan sosial: dia mendapat dukungan dari mereka yang mengharapkan distribusi kekayaan yang lebih merata dan adil, pendukung lingkungan hidup dan pergerakan melawan korupsi.

Bila melihat peta kekuatan seperti ini maka tidak heran mengapa pemenang hadiah nobel literatur Mario Vargas Llosa menyatakan bahwa “Dengan Ollanta, ada jaminan perkembangan demokrasi. Jika dia bertindak sewenang-wenang aliran kanan akan menghalanginya. Jika Fujimori melakukan kejahatan politik maka aliran kanan akan melihatnya sebagai kesempatan untuk bisnis”[8].

DUKUNGAN YANG DITERIMA KEDUA CALON PRESIDEN UNTUK PEMILIHAN PRESIDEN TAHAP KEDUA

OLLANTA HUMALA:

  • Mendapat dukungan kuat dari kalangan profesional tingkat tinggi, misalnya dari Luis Alberto Arias (mantan Kepala Pajak Peru), Humberto Campodónico, Sinesio López, Oswaldo de Rivero, Javier Iguiñiz. Juga mendapat dukungan kuat dari para profesional yang menciptakan Rencana Pemerintahan Peru Posible (partainya Alejandro Toledo) seperti Oscar Dancourt, Kurt Borneo dll. Serikat Sosial dan organisasi-organisasi sosial banyak yang mendukung Ollanta misalnya Konfederasi Buruh Peru, Pergerakan Tierra y Libertad (Tanah dan Kebebasan), Fuerza Social (Kekuatan Sosial) dll.
  • Partai Fuerza Social menyatakan bahwa untuk menjaga agar negara tetap terbuka terhadap perspektif perjuangan melawan kemiskinan, melawan ketidaksamarataan dan eksklusi sosial, mempertahan demokrasi dan hak-hak asasi manusia, desentralisasi pembangunan dan pembangunan yang merata dan pembangunan yang pro pengusaha kecil dan menengah di Peru, demi perlindungan lingkungan hidup maka Fuerza Social tidak mendukung Keiko Fujimori. Fuerza Social mendukung Ollanta Humala.
  • Demikian juga Ollanta mendapat dukungan dari Mario y Alvaro Vargas Llosa, Gustavo Gorriti, César Hildebrandt, pelukis Victor Delfin. Mereka menyadari bahwa memilih Keiko Fujimori artinya memberi peluang kepada korupsi, pemerkosaan hak asasi manusia.

KEIKO FUJIMORI:

  • Keiko Fujimori mendapat dukungan penuh dari kekuatan ekonomi, pemerintahan Alan Garcia (presiden sekarang ini) , PPK dan Hernando Soto. PPK menuduh Ollanta bahwa dalam pemilihan Presiden 2006 lalu Ollanta mendapat dukungan dari Hugo Chavez (Presiden Venezuela), hal yang dikritik oleh Alejandro Toledo (yang saat itu berkuasa) mengatakan bahwa dari laporan intelijen yang diterimanya bahwa pernyataan itu tidak benar, itu hanya digunakan untuk menurunkan kepercayaan publik kepada Ollanta Humala.
  • Keiko Fujimori mendapat dukungan dari sebagian besar media komunikasi. Mereka melakukan kampanya “ketakutan” pada Ollanta,  khususnya di Lima di mana terdapat 34% . Ketakutan media komunikasi menunjukkan kemalasan para jurnalis dan media komunikasi untuk melakukan investigasi atas apa yang sesungguhnya terjadi atau karena mereka dibeli oleh Keiko Fujimori.


[1] Lihat www.otramirada.pe, “¿Hay diferencias entre Keiko Fujimori y Ollanta Humala?, 9 de Mayo del 2011.

[3] www.bcasas.org.pe, Algunas reflexiones sobre el Contexto Electoral.

[4] Lihat Koran La Republica, 1 Mei 2011, “El Fujimorismo en la segunda vuelta”.

[5] Wawancara majalah Caretas dengan Susana Higuchi, tanggal 21 Juni 2007. Edisi no. 1981.

[6] Koran La Republica, tanggal 21 April 2011 “CEPJ respaldó a San Martin”.

[7] El Diario 16, tanggal 9 Mei tahun 2011, “Votar por Humala”.

[8] La Republica, tanggal 1 Mei 2011, “19 razones para votar por Ollanta”.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: