Skip to content

PEMILIHAN PRESIDEN PERU: SEBUAH PILIHAN YANG SULIT

Mei 18, 2011
(Ditulis oleh Benny Kalakoe)

 Hasil pemilihan umum tanggal 10 April 2011 menempatkan Ollanta Humala (Gana Peru) dan Keiko Fujimori (Fuerza 2011) sebagai calon presiden yang akan bertarung pada pemilihan presiden tahap kedua tanggal 5 Juni 2011. Kedua calon ini menang atas ketiga calon kuat lainnya yakni Alejandro Toledo (Peru Posible) , Pedro Pablo Kuczinski (Por El Gran Cambio) dan Lucho Castañeda (Solidaridad Nacional). Ketiga calon kuat ini mewakili kelompok demokrat yang mendukung perkembangan ekonomi Peru sekarang.

Kekalahan calon-calon demokrat memunculkan pertanyaan: Mengapa calon demokrat kalah?. Mengapa banyak penduduk Peru masih mendukung aliran sosial kiri (Ollanta Humala) dan mau kembali ke zaman Alberto Fujimori yang terkenal korupsi dan melanggar hak asasi manusia (Keiko Fujimori)? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa dijawab dalam berbagai análisis: 1. Hasil Pemilihan Umum: Berdasarkan laporan IPSOS-APOYO dalam Ipsos-Apoyo Elecciones 2011, tanggal 6 April hal 3, dinyatakan bahwa dua dari tiga pemilih berasal dari masyarakat yang secara sosial ekonomi berada dalam golongan miskin.

Tingkat Sosial Ekonomi                Perú                          Lima

Kelas Kaya dan Menengah              10%,                      23%   

Kelas Miskin                                       23%                            33%

Kelas Setengah Miskin                       31%                           30%

Kelas Miskin sekali                           36%                              14%.

Dengan hasil perhitungan 96% suara yang sudah dihitung (sampai tanggal 15 April 2011) bisa dilihat hasilnya sebagai berikut:

                                 Ollanta             Keiko      Pedro P Kuczinski      A. Toledo     L Castañeda  

Daerah                    16                         5                              2                                1                           –       

Provinsi                 119                      45                              3                              28                          –          

Kabupaten           1049                   488                          42                            242                       9

(Lihat peta politik hasil pemilihan umum tanggal 10 April kemarin berdasarkan daerah, provinsi dan kabupaten, yang diambil dari informasi yang disampaikan oleh Francisco Javier Rodríguez Arias http://www.deigualaigual.net/es/actualidad/peru/5128-nuevo-mapa-politico-del-peru-resultados-presidenciales-2011).

Mengapa hasilnya seperti itu?

Banyak pihak yang kecewa dengan hasil pemilihan ini; terutama kaum demokrat yang gagal masuk ke pemilihan presiden tahap kedua. Pertanyaanya, mengapa kaum demokrat gagal?

Lima tidak sama dengan Peru. Pemilihan presiden di Peru tanggal 10 April kemarin merupakan perang antara dua aliran yang melihat “Peru sama dengan Lima” dan “Peru tidak sama dengan Lima”. Penduduk miskin di Lima dan di luar Lima melihat bahwa perkembangan ekonomi yang terkonsentrasi di Lima, yang didukung oleh kaum kapitalis-demokrat, bagi mereka tidak ada artinya. Karena itu mereka merindukan datangnya seorang pembaharu yang bisa mendistribusikan kekayaan perekonomian Peru ke daerah-daerah. Dan calon presiden yang bisa mendistribusikan kekayaan ini adalah Humala dan Keiko. Bagi mereka Toledo, Pedro P. Kuczinski dan Lucho Castañeda, yang menjadikan dasar kampanye mereka atas perkembangan ekonomi Peru dan menjadikan Lima sebagai basis pemilihan mereka, tidak akan membawa perkembangan ekonomi yang berarti bagi mereka ke depan.

Keadaan ini dimanfaatkan oleh Ollanta Humala dan Keiko Fujimori dengan baik sehingga mereka menang di daerah-daerah:

Ollanta Humala dalam kampanyenya di daerah-daerah menunjukkan rencana pemerintahannya yang mendukung pendistribusian kekayaan negara yang adil ke daerah-daerah.  Selain itu juga Humala mengangkat isu lingkungan hidup, di mana daerah-daerah hanya menjadi obyek pengerukan kekayaan alam tanpa pernah mendapat hasil kekayaan alam itu. Demikian juga dengan isu korupsi yang tidak pernah akan bisa dibasmi karena merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan ekonomi kaum kapitalis dan demokrat.

Keiko Fujimori menggunakan figur bapaknya yang membuka jalan-jalan ke daerah-daerah. Bapaknya menghancurkan sarang-sarang terorisme di daerah-daerah. Selain itu, Fujimori juga menempatkan masyarakat miskin sebagai bagian dari negara yang harus diperhatikan.

Pendekatan Ekonomi Optimistis Vs Kritis. Ada dua aliran atau pendekatan terhadap perkembangan ekonomi Peru yang selama sepuluh tahun terakhir mengalami peningkatan yang luar biasa. Pendekatan pertama adalah pendekatan optimistis: yakni pendekatan yang menyatakan bahwa perkembangan ekonomi Peru semakin baik, tingkat konsumsi meningkat dan angka kemiskinan berkurang. Pendekatan yang kedua adalah pendekatan kritis yang menyatakan bahwa ada perkembangan ekonomi tetapi harus diakui bahwa perkembangan ekonomi itu tidak berkelanjutan. Perkembangan ekonomi itu terjadi karena perubahan pasar eksternal yakni meningkatnya permintaan bahan dasar dari China dan India; murahnya harga barang impor dari China dan India di Peru akibat Perjanjian Perdagangan Bebas, sehingga tingkat konsumsi meningkat karena harga murah; banyaknya devisa negara yang dikirim kaum imigran Peru dari luar negeri dan meningkatnya perdagangan ilegal narkotrafik. Pendekatan kritis ini menyatakan bahwa perkembangan ekonomi ini sebenarnya tidak membawa perubahan yang berarti bagi masyarakat, dengan kata lain angka kemiskinan di Peru masih seperti 10 tahun yang lalu.

Kaum demokrat menggunakan pendekatan ekonomi optimistas sebagai dasar kampanye pemilihan presiden terutama oleh PPK. Sementara sebagian masyarakat di daerah-daerah tidak melihat adanya perkembangan ekonomi yang significan bagi mereka. Bagi mereka perkembangan ekonomi yang ada hanya untuk kota Lima. Sementara penduduk Lima yang menikmati hasil perkembangan ekonomi Peru, terus mendesak supaya perkembangan ekonomi seperti ini terus dilanjutkan oleh presiden yang baru nanti. Dan kemauan ini disambut baik oleh ketiga calon presiden PPK, Toledo dan Castañeda.

PPK, mengkonsentrasikan kampanyenya di Lima dan dia menang di Lima. Toledo menang di beberapa daerah, tetapi basisnya di Lima terutama anak muda lari ke PPK. Lucho Castañeda juga menjadikan Lima sebagai basis pendukungnya karena mantan gubernur Lima tetapi tidak mendapat dukungan yang berarti. Ketiga calon ini menjadikan Lima sebagai basis utama suara mereka. Dengan demikian suara kaum demokrat yang berpusat di Lima terbagi bagi ketiga calon ini.

Melihat kenyataan ini, seminggu sebelum pemilihan umum Toledo mengajak ketiga temannya untuk mengadakan kontrak politik untuk menghambat kemenangan Ollanta Humala dan Keiko Fujimori. Namun kedua calon presiden lain tidak sepakat bahkan Pedro Pablo Kuczinski menyatakan bahwa dirinya akan menang dan bisa bertengger di posisi kedua.

Tetapi kenyataanya berkata lain, calon presiden kaum demokrat gagal karena hanya mengandalkan Lima sebagai basis suara mereka dan mereka terlalu terobsesi oleh kekuasaan bagi diri mereka sendiri, lupa bahwa strategi mereka yang salah dimanfaatkan dengan baik oleh Humala dan Keiko. Terbaginya suara bagi ketiga calon presiden demokrat membuat jalan Humala dan Keiko yang secara matematis sudah memperkirakan bahwa 60% suara yang ada di daerah-daerah masuk ke kantong mereka berdua.

Antara Humala dan Keiko (Sebuah Pilihan Yang Sulit)

Tema Keiko Fujimori, Fuerza 2011 (57 halaman dengan kurang lebih 10.000 kata) Ollanta Humala, Gana Perú (197 halaman dengan kurang lebih 100.000 kata)
Pertanian Produktivitas daerah pegunungan

Peningkatan produktivitas

Peningkatan infrastruktur

Mendukung produktivitas daerah pegunungan

Keamanan persediaan pangan

Agro-industri

Tidak setuju dengan pemusatan kepemilikan tanah

Hak-hak masyarakat adat Hanya judul Judul: Menghormati hukum Konsultasi: Konvensi 169 OIT

Keuntungan eksploitas sumber daya alam harus sampai ke masyarakat adat

Mengembangkan kepemilikan dan kebudayaan mereka

Konstitusi Menjaganya, karena perkembangan yang sekarang merupakan “hasil langsung dari model ekonomi dari Konstitusi 1993”. Perubahan untuk membangun hak dan memberikan representasi yang layak kepada komunitas yang multikultural
Hak-Hak Asasi Manusia Tidak dibicarakan Mendukung secara penuh kerja dari Informasi Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
Pendidikan Meningkatkan kualitas pendidikan

Mendedikasikan 6% PBI untuk makanan di sekolah

Meningkatkan kapasitas guru sesuai tuntutan

Beasiswa

Meningkatkan kualitas pendidikan

Mendedikasikan 6% PBI untuk pendidikan: Pendidikan Dasar, Memperbaharui Karir Publik Magister dan mendukung Proyek Pendidikan Nasional.

Tenaga Kerja Fleksibilisasi dan “membuat supaya biaya yang harus dibayar oleh perusahaan kepada para pekerja semakin berkurang”. (hal 44) Membuka kesempatan kerja dan produktivitas

Pengesahan Hukum Umum untuk bekerja

Meningkatkan Upah Minimum Rata-rata

Keamanan Meningkatkan kondisi polisi dan pekerjaan komunitas terhadap kejahatan-kejahatan kecil

Meningkatkan hukuman atas kejahatan

Memodernisasikan kepolisian

Menciptakan polisi pedesaan

Mencegah kejahatan

Pemuda Beasiswa Pekerjaan, Pendidikan, Olahragan dan Karya Sosial
Korupsi “Kita tidak toleran dengan korupsi” Kejahatan terhadap kasus korupsi tidak pernah akan ditutup

Dan tidak akan bisa melakukan fungsinya sebagai pemerintah untuk selamanya

Lingkungan Hidup Pembangunan yang berkelanjutan Keseimbangan antara eksploitasi sumber daya alam, hak masyarakat adat dan perlindungan lingkungan hidup

Memberikan beberapa strategi politik untuk menghadapi perubahan iklim

Kesehatan Biaya yang besar.

Memperluas fungsi SIS dan CLAS

Mengurangi desnutrisi anak-anak

Biaya yang besar

Menggabungkan MINSAESSALUD

Memperhatikan hak-hak pasien

Pensiun Tidak dibicarakan Memperbaiki Sistem Pensiun dan Pensiun untuk 250 orang miskin yang berumur lebih dari 65 tahun
Model Ekonomi Neoliberal Perubahan, ekonomi nasional yang tidak difokuskan pada materi prima, dengan perkembangan pasar dalam negeri dan menjaga stabilitas makroekonomi yang menjamin masyarakat hidup dengan pekerjaan mereka dan meningkatkan investasi
Kemiskinan Program bantuan Memeranginya dnegan mengubah model dan cara distribusi kekayaan yang lebih adil.
Pajak Tidak dibicarakan Mereformasi Pajak dan memerangi penyelundupan pajak

Meningkatkan PBI menjadi 18-20%

Desentralisasi Fiskal

Pajak langsung, seperti pajak penghasilan tambang,

Penurunan Pajak Penjualan Umum menjadi 14 atau 15%

Nilai Kebebasan, toleransi dan solidaritas Keadilan, kebebasan dan demokrasi
Konflik Sosial Tidak dibicarakan Dialog
Negara Minimum dan penolong Promotor pembangunan, pengatur ekonomi pasar, perlindungan konsumen dan hak-hak masyarakat, pemilik pelayanan publik dasar seperti pendidikan, kesehatan, keadilan, keamanan sosial, air dan air bersih.
Desentralisasi Tidak dibicarakan Kekuasaan efektif di tangan pemerintah daerah

Desentralisasi Fiskal

Peta Kekuatan Ollanta dan Keiko Fujimori

Sebagian besar masyarakat Lima kecewa dengan hasil pemilihan tanggal 10 April 2011 lalu. Sampai-sampai penerima hadiah nobel literatur Peru, Mario Vargas Llosa, mengatakan bahwa kalau Humala dan Keiko masuk dalam pemilihan presiden tahap kedua itu berarti bangsa Peru memilih antara “kanker dan HIV”.  Dengan kata lain kedua calon presiden ini merupakan penyakit yang membawa kehancuran bagi bangsa Peru.

Walaupun demikian tidak ada jalan lain bagi masyarakat Peru selain memilih kedua calon ini yang  sudah melewati tahapan demokrasi. Memilih untuk tidak memilih keduanya dalam pemilihan tanggal 5 Juni nanti, berarti menyerahkan nasib negara ke tangan orang. Karena itu adalah baik melihat peluang kedua calon tersebut untuk menjadi Presiden Peru yang  baru nanti.

 

Ollanta Humala

Keiko Fujimori

Kekuatan Kekuatan Humala terletak pada janji-janjinya:

  • Distribusi kekayaan ekonomi Peru bagi semua masyarakat Peru, khususnya di daerah-daerah.
  • Satu-satunya calon Presiden yang menyinggung Perlindungan Lingkungan Hidup sebagai hal yang penting dalam pemerintahannya nanti
  • Perjuangan untuk membasmi korupsi merupakan hal yang penting baginya untuk membangun Peru yang lebih berkeadilan dan lebih maju
  • Keamanan: latar belakang militer yang dimilikinya bisa menjadi dasar yang baik untuk membangun sistema keamanan masyarakat lebih terjamin.
Kekuatan Keiko Fujimori sebenarnya terletak pada kekuatan ayahnya Alberto Fujimori. Beberapa hari setelah pengumuman hasil pemilu Keiko menyatakan dengan tegas bahwa kemenangannya merupakan kelanjutan dari pemerintahan bapaknya. Adapun beberapa kekuatan Keiko:

  • Karya bapaknya terhadap daerah-daerah, misalnya akses jalan dan listrik, membuat masyarakat di daerah merindukannya.
  • Perjuangan anti-terorisme yang dijalankan bapaknya membuat Peru aman dari bahaya teroris.
  • Bapaknya menempatkan sistem ekonomi yang terpadu dan menempatkan masayarakat miskin sebagai aktor dalam perkembangan ekonomi Peru. Keiko menempatkan masyarakat miskin di daerah-daerah menjadi bagian yang harus diperhatikan oleh pemerintahan Peru.
Kelemahan
  • Humala = Chavez : Adanya ketakutan dari berbagai pihak bahwa Ollanta sama dengan Chavez di Venezuela. Namun pernyataan ini sebenarnya tidak sesungguhnya benar. Alan Garcia tahun 2006 menggunakan pernyataan ini untuk melemahkan Ollanta Humala. Media komunikasi membesar-besarkan ini supaya banyak orang tidak memilihnya. Padahal dalam kenyataannya, yang memiliki hubungan yang baik dengan Venezuela adalah Fujimori. Montesino dan Fujimori menjadikan Venezuela sebagai tempat pelarían mereka.

 

Selain itu kalau dilihat dari faktor-faktor kekuatan politik negara Peru yang terdiri dari lima faktor yakni faktor ekonomi, politik, sosial, Gereja dan Militer: Ollanta tidak memiliki kekuatan yang berarti untuk menjadikan dirinya seorang diktator seperti Chavez. Karena dia tidak memiliki kekuatan ekonomi yang berarti; kekuatan politik tidak dimilikinya secara absolut karena bukan merupakan mayoritas di parlemen; kekuatan sosial juga tidak, karena masyarakat di Lima banyak yang akan berhadapan dengannya; kekuatan Gereja juga tidak karena dia memang tidak pernah menggunakan Gereja sebagai basis politiknya; kekuatan militer ia miliki tetapi tidak semuanya. Sementara Keiko Fujimori memilik hampir semua kekuatan itu.

  • Perubahan Konstitusi: Banyak orang takut bahwa Ollanta Humala akan mengadaka perubahan konstitusi. Kalau diselidiki dengan lebih teliti dari Rencana Pemerintahan Ollanta Humala; yang mau diubah oleh Ollanta sebenarnya hanya perubahan ekonomi dan hak-hak masyarakat. Misalnya hak atas hasil pertambangan, di mana sebagian besar hasil pertambangan jatuh ke tangan perusahaan. Di sini hak masyarakat dan negara ingin ditegakkan kembali.

Namun harus diingat kembali bahwa yang melakukan perubahan konstitusi sebelumnya adalah Alberto Fujimori. Karena itu tuduhan perubahan konstitusi atas dirinya belum bisa dibenarkan.

  • Pemerintahan Keiko merupakan kelanjutan dari pemerintahan Bapaknya. Karena itu banyak orang melihat bahwa sudah pasti Keiko akan melakukan korupsi dan menginjak-injak hak-hak asasi manusia seperti yang dilakukan ayahnya. Banyak orang melihat bahwa begitu Keiko Fujimori menjadi presiden hal pertama yang akan dia lakukan adalah membebaskan bapaknya dari penjara dan memberikan keringanan tahanan bagi Montesino. Bagi banyak masyarakat ini merupakan sesuatu yang pasti dari Keiko saat dia menjadi presiden nanti.

 

Kesempatan
  • Kesempatan bagi Ollanta Humala untuk menjadi Presiden terletak pada kemungkinan-kemungkinan. Semua ini hanya bisa dilihat nanti setelah dia terpilih: Peru bisa jadi lebih maju atau bisa jadi lebih mundur.
  • Posisi Ollanta Humala sangat bergantung pada media komunikasi. Media komunikasi terlalu membesar-besarkan kelemahannya tanpa menganalisis lebih dalam apa sesungguhnya sebenarnya yang hendak diinginkan Ollanta Humala.
  • Bagi masyarakat dengan Ollanta ada kemungkinan bahwa Peru semakin baik.
Sementara Keiko Fujimori, sudah hampir bisa dipastikan bahwa pemerintahannya merupakan kelanjutan pemerintahan bapaknya. Hal ini diperjelas dengan tidak dijelaskan secara mendalam program anti korupsi dan hak asasi manusia dalam rencana pemerintahannya. Karena itu bagi banyak orang memilih Keiko berarti memilih seorang koruptor dan pemerkosa hak-hak  asasi manusia.

  • Bagi masyarakat dengan Keiko ada kemungkinan bahwa Peru kembali seperti pemerintahan Bapaknya: korupsi merajalela dan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia .

Sumber:

  1. Una Conyuntura Difícil”, Pillar Arroyo R.P., Instituto Bartolomé de Las Casas
  2. Hasil Diskusi Sekolah Pemimpin Pembangunan “Hugo Echegaray” dalam tema Partai Politik dan Pemilihan Presiden 2011.
  3. IPSOS APOYO
  4. http://www.deigualalaigual.net/es/actualidad/peru/5128-nuevo-mapa-politico-del-peru-resultados-presidenciales-2011.
  5. Koran El Comercio dan La República
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: